Kamis, 16 April 2015

JONES Chapter 5

JONES (JOMBLO NGENES)

CAST:   Aswid (Aswid)
            Yudi (Sahabat Aswid)
            Galih (Sahabat Aswid)
            Sinka (gebetan Aswid)
            Elaine Hartanto (kakak Aswid/gebetan Yudi)
            Andela Yuwona (adik Aswid/gebetan Galih)

CHAPTER 5
                Sesampainya di rumah, kami langsung naik ke lantai 2 menuju kamar kami masing2, setelah itu kami kembali menuju lantai bawah, untuk makan siang bersama-sama, ya kecuali ayah, karena beliau kan pulangnya suka sore, ya jadi kami makan hanya ber-4 aja, setelah makan kami ber-3 menuku tujuan kami masing, ya ada yang nonton tv ada yang ke kamarnya, macem2 deh pokoknya.
Aswid: “oh iya berhubung Andela udah jadian sama cowok yang dia suka jadi dia harus dan wajib untuk mentraktir aku”
Aku pun menuju kamar Andela yang tepat sebelah kamarku.
Aswid: “Ndel??”
Andela: “iya kak, masuk aja nggak di kunci kok.”
Aswid: “iya deh kakak masuk yaa?”
Aku pun langsung masuk ke kamarnya Andela.
Aswid: “cieee, yang lagi smsan sama pacarnyaa, harus di tepatin donk janjinyah?, hehe”
Andela: “datang ke kamar cuman mau nagih janji doing, huuuuuuuh”
Aswid: “janji adalah hutang Del, kan kakak suka ajarin kamu supaya kamu nggak ingkar sama janji kamu sendiri”
Andela: “iya deh iya kakak Aswid, yang JONES, eh yang ganteng, hehe”
Aswid: “tuh kan, tuh kan, akhir nggak mengenakan kamu mah, suka gitu. Mana bilang jomblo lagi, bilangin sama ibu tau rasa kamu”
Andela: “yah jangan dong kak, maaf!!!”
Aswid: “nggak”
Andela: “maaf kak” dengan nada sedih, dan sudah mau menangis akhirnya aku memaafkan dia lagipula itu cuman bohongan
Aswid: “iya kakak maafin, udah jangan nangis udah kelas X juga masih nangis, kakak cuman becanda kok” dengan nada manja dia menjawab
Andela: “bener ya kak?”
Aswid: “iya Andela Yuwono anak nya ayah, sama ibu”
Andela: “ih suka gitu deh”
Aswid: “jadi nggak traktir kakak?”
Andela: “iya ayo sekarang berangkat”
Kami pun bersiap-siap untuk pergi ke suatu took makan yang ada di deket komplek perumahan kami, ya mumpung hari belum gelap a.k.a malam, karena kalo keluar malem nanti nggak di izinin masuk lagi, apalagi Andela sama aku alergi sama udara dingin.
Andela: “kakak mau apa?”
Aswid: “gimana kamu aja deh.”
Andela: “ya udah, ini mau” sambil tunjuk snack TAR* NET yang suka di tv itu yang iklannya ada monet.
Aswid: “masa yang gituaan sih, yang lebih keren dong, ini aja deh satu sama minumannya satu”
Andela: “jangan banyak2 kak aku nggak punya uang”
Aswid: “ini doang kok”
Andela: “ya udah, Andela bayar dulu makanannya”
Kami pun langsung membayar makan ringan yang kami beli tadi di kasir, sementara itu apa yang terjadi setelah aku memberikan nomer handphone mbak Ilen ke Yudi
TO BE CONTINUED.


Senin, 13 April 2015

Jodoh Tak Terduga

Jodoh Tak Terduga
Kejadian itu berlangsung ketika aku berumur 3 tahun, masa dimana aku belum ingat tentang apa yang terjadi kisah ini juga di ceritakan oleh ibu saya karena kemarin saya bertemu dengan teman yang sudah 15 tahun tidak bertemu.
Namaku Asep Widi. Awal kisah saat itu aku suka bermain dengan anak tetanggaku yang berumur 1,5 tahun, yang bernama Melodi Nuramdani Laksani kami sering bermain sepeda roda tiga yang aku punya waktu itu, aku sering membonceng dia kemana2 meskipun waktu itu aku belum ingat betul, tapi beberapa lama kemudian dia pindah rumah, dan aku pun tidak tahu kabarnya bagaimana. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun aku lewati tanpa aku tau kalau aku punya sahabat kecil yang sering bermain bersama. 3 tahun setelah dia pindah rumah aku sudah masuk Sekolah Dasar dan mendapatkan teman baru disana. 6 tahun aku melewati masa SD, dan akhir nya aku masuk ke Sekolah Menengah Pertama dan juga aku mendapatkan teman baru di sana dari berbagai tempat, 3 tahun melewati masa SMP, dan akhir nya aku masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan, meskipun teman-teman SMP melanjutkan ke sekolah yang berbeda-beda tetapi kita masih berhubungan SMS, atau pun BBM, dan awal masuk di SMK pun aku mendapat teman baru dengan berbagai sifat yang ada, di tahun terakhirku di SMK waktu itu sedang bulan puasa tanpa ku ketahui ada 2 orang tamu ke rumahku dan kayaknya ibu dan anak perempuannya,
Tamu: “permisi Assalamu’alaikum”
Aku: “yaa, Wa’alaikumsalam”
Tamu: “eh, ini Asep yaah?”
Aku: “kok ibu tau saya?, eh masuk dulu bu, selahkan duduk.”
Tamu: “ya terima kasih, ibu kamu ada?”
Aku: “ada bu lagi Solat, sebentar ya saya panggil ibu saya dulu.”
Tamu: ”yaa, silahkan”
Aku: “bu ada tamu.”
Ibu: “siapa?”
Aku: “nggak tau tapi kayak dia kenal sama ibu.”
Ibu: ”ya sebentar”
Aku: “cepetan”
Aku dan ibu menghampiri tamu itu dan dugaan aku pun benar mereka saling kenal dan kayaknya mereka deket banget.
Ibu: “eeehhhh, udah lama nggak ketemu kemana aja, apa kabar?”
Tamu: “ada biasa lah sibuk akunya jadi guru TK di Bandung, baik sehat kok keluarga disana.”
Ibu: “eeehhhh, ini Melodi yah wah udah besar yaah, tau nggak ini siapa?” (sambil nunjuk ke aku)
Anak Tamu: “(geleng-geleng kepala)”
Aku: “kok ibu bisa tau siapa mereka?”
Ibu: “ya tau lah ibu ini namanya bu Iwan, dan itu anaknya namanya Melodi, dan kamu waktu masih kecil sering main sama dia”
Bu Iwan: “pokoknya kalian udah kayak kakak ade, mandi sama-sama, makan sama-sama, sampai nangis sama-sama”
Aku dan Melodi tersipu malu, wajah kami mendadak memerah karena malu mendengar cerita tentang aku dan Melodi waktu kecil. Waktu pun sudah menunjukan pukul 16.15 sore dan mereka pun pamit untuk pulang kembali ke Bandung karena mereka kebetulan lewat ke daerah Ciamis jadi sekalian dia mampir ke rumah aku, sebelum mereka pamit bu Iwan meminta no handphone nya ibu entah buat apa. Setelah bebrapa tahun kemudian dan aku pun sudah lulus SMK dan sebentar Lagi mau Wisuda ibu memberitahu sesuatu.
Ibu: “nak mau nggak ibu jodohkan sama anaknya ibu Iwan yang waktu itu kesini”
Aku: “ya aku sih gimana ibu aja, yang penting dia itu sayang sama aku, bapak, dan ibu itu aja, oh iya bu aku mau ngerjain scripsi dulu.”
Bapak: “ya udah bu jodohin saja”
Ibu: “ya deh kalau kamu nggak keberatan, yaa jangan malam-malam pulangnya”
Aku: “iya bu”
Hal yang sama pun terjadi pada Melodi, melodi yang baru Semester 3 langsung di hadapkan dengan pertanyaan itu.
Bu Iwan: “Imel (begitulah sebutan Melodi di rumah) kamu mau nggak ibu jodohin kamu sama anaknya ibu Agus itu yang ada di Ciamis?”
Imel: “haaah, nggak salah bu aku kan baru semester3 bu udah di tanya yang begituan lagi.”
Bu Iwan: “kamu mau nggak dulu, dia kan udah mau wisuda nanti bisa bantu kamu dalam kuliah”
Pak Iwan: “iyaa kamu mau nggak?”
Imel: “kalo di tanya ‘mau’ atau ‘nggak’ aku masih bingung yah, tapi kalau itu yang terbaik mau nggak mau aku bersedia kok.”
Bu Iwan: “cieeee, tadi kan bu Agus ngirim pesan kalo anak nya itu ngejawab nggak jauh dari kamu, kalo jodoh emang nggak kemana ya Yah?”
Pak Iwan: “iya bu J :-D, kamu punya no atau pin bb jodoh kamu nggak?”
Imel: “nggak”
Bu Iwan: “masa nggak punya wah nanti kemistrinya kurang dong, nanti ibu mau mau minta no handphone sama pin BB nya sama bu Agus dulu.”
Bebrapa saat kemudian
Bu Iwan: “nih no nya kamu tulis 087724521***, nih pin BB nyah 5211c***”
Imel: “ya udah, aku ke kamar dulu”.
Sementara itu dikala aku sedang mengerjakan scripsiku kulihat ada pesan dan nomernya pun aku tidak mengenalnya dan pesan itu berisi “acc pin bb aku” aku pun langsung melihat aplikasi bbm dan ternyata benar ada satu permintaan kontak. Setelah itu aku buka dan ternyata adalah Imel, seorang gadis yang ibu jodohkan kepadaku itu, akupun telah menyetujui permintaan kontak dia, dan tak berapa lama aku pun chattingan dengannya, beberapa lama kami saling membalas pesan bbm yang terus dikirimkan itu, dan aku pun tahu kalo ibunya Imel itu menjodohkan aku dengan dia, mungkin para ibu dan ayah kita sudah membahas tentang perjodohan ini, sebenarnya sih agak kurang setuju dengan perjodohan ini kayak zaman Siti Nurbaya aja tapi aku tidak bisa mengelak karena itu adalah keinginan kedua orang tua aku, aku sih nurut aja takutnya mengecewakan perasaan kedua orang tua aku.
Setelah 4 tahun kemudian dan aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tetap dengan gaji yang lumayan cukup besar, dan Imel pun sudah mendapatkan pekerjaannyah dan dia lulus dengan nilai IPK yang tinggi dan langsung mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa harus melalui test apapun. Beberapa bulan kemudian Imel dan keluarganya mengundang keluarga kami untuk makan bersama sekalian melangsungkan pertunangan antara aku dan Imel, dan selama 4 tahun hubungan ini aku sudah cukup tau sifat dia bagaimana dan segala sesuatu tentang dia, dan dia pun sama dia sudah tau bagaimana aku dan segala sesuatu tentang aku. Tepat pukul 13.00 aku bersama keluargaku berangkat dari Ciamis ke Bandung menggunakan mobil pribadi dan sampai di Bandung pukul 17.00 dan acara pun dimulai pukul 18.00 atau sesudah magrib dan untuk acara pertunangan dimulai pukul 20.00 atau tepatnya sesudah isya keluargaku pun di persilahkan untuk istirahat di rumahnya Imel saja, dan acarapun di mulai setelah acara makan-makan selesai, aku dan Imel berbincang sebentar karena sudah hamper 2 bulan nggak ketemu, karena tuntutan pekerjaan kami masing yang sangat sibuk sehingga aku dan Imel tidak sempat untuk bertemu, di sela-sela akhir pekan dan selama 4tahun hubungan aku sering main ke rumahnya karena tempat kerja aku yang deket ke rumahnya dan aku pulang ke Ciamis hanya 2 minggu sekali, karena kalo kelamaan nggak pulang takutnya ada kenapa2 sama ibu dan bapak di Ciamis.
Imel: “bagaimana pekerjaan kamu?”
Aku: “ya gitu nggak ada yang berubah.”
Imel: “eh kamu kemarin pas nggak ke rumah di tanyain sama ibu takutnya kamu kenapa2 katanya”
Aku: “aku nggak papa kok sayang, kan kamu juga tau tuntutan pekerjaan aku yang super sibuk, salah aku juga sih nggak bilang sama ibu kamu kalo aku nggak bakalan ke rumah, oh iya aku ada kabar gembira buat kamu”
Imel: “kabar gembira apa?”
Aku: “kulit manggis kini ada extraknya”
Imel: “ah kamu, dikirain beneran, serius nih”
Aku: “yaa ini juga serius kok, aku di promosikan untuk memimpin kantor cabang perusahaan aku yang ada di Tasikmalaya, jadi aku bisa pulang kapan aja ke Ciamis, dan nggak terlalu jauh kalo mau ke rumah kamu sayang.”
Imel: “wwwiiiihhh selamat yaa sayang, mamah ibu sama bapak kamu udah tau?”
Aku: “belum baru kamu aja yang aku kasih tau, soalnya tadi aku mau bilang ke ibu sama bapak tapi mereka kelihatan sibuk nyiapin untuk acara malam ini jadi aku tunda aja untuk memberitahukan kabar ini ke ibu sama bapak aku.”
Imel: “aku bilangin ya sama ibu bapak kamu, mumpung lagi santai apalagi ada ibu sama ayah aku”
Aku: “gimana kamu aja deh sayang”
Imel: “ya udah aku bilangin yaa”
Imel pun menghampiri ibu bapak aku dan juga ayah ibunya.
Imel: “bu, mah, yah, pak, tau nggak ada kabar gembira loh”
Ibu: “kabar gembira apa nak?”
Imel: “ada yang di promosikan jadi pimpinan cabang loh?”
Pak Iwan: “siapa nak?”
Imel: “calon suami aku”
Semua: “yang bener?”
Imel: “tanyain aja sama orangnya.”
Semua: “kamu bener mau jadi pimpinan cabang di perusahaan kamu?”
Ibu: “kok kamu nggak cerita ke ibu nak?”
Bapak: “iya, kok nggak cerita-cerita siih sama kita”
Aku: “hehe :-D , maaf soalnya tadi ibu sama bapak lagi sibuk.”
Bu Iwan: “ya udah kita mulai aja acara pertunangannya aja, bagaimana?”
Ibu: “iya kita mulai aja.”
Acara pertunangan antara aku dan Imel pun di mulai kami anya mengundang sanak sodara yang dekat saja karena ini hanya acara pertunangan saja ini, dan 5 bulan ke depan aku sama Imel akan melangsungkan pernikahan, acara pun sudah selesai dan kami pun berniat untuk pulang, tapi karena aku cape jadi keluarga aku menginap di rumahnya Imel, sebelum tidur aku mempersiapkan data buat besok ke kantor dan Imel menghampiriku kami pun berbincang2.
Imel: “kamu lagi ngapain, serius amat?”
Aku: “amat nggak serius sayang, hehe :-D, nggak ini lagi siap2 buat besok ke kantor”
Imel: “hah ke kantor besok kan hari minggu sayang”
Aku: “ah yang bener yang, emang sekarang tanggal berapa?”
Imel: “sekarang kan tanggal 3, ari sabtu?”
Aku: “astagfirulloh, kok sampai lupa hari begini ya, haduh”
Imel: “mikirin naik jabatan si jadi lupa hari de tuh”
Aku: “kamu ngantuk yaa? Udah kelihatan dari matanya udah sana tidur”
Imel: “ya de aku tidur dulu ya sayang, dahhh”
Setelah dia mengucapkan selamat tidur, aku pun segera tidur karena rasa kantuk yang sudah menyerang.
          Keesokan harinya aku di bangunin oleh Imel karena udah siang dan aku belum solat Subuh
Imel: “heh bangun udah jam 5 solat dulu gih”
Aku: (calon istri nggak ada romantic-romantisnya)“hhhaaaaahhh, iyaaa” akupun terbangun sambil gerutu dalam hati dan langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudlu dan segera untuk solat Subuh setela solat aku langsung packing barang untuk pulang ke Ciamis setela packing-packing selesai aku langsung pamit ke ibu, ayah, dan juga Imel.
Aku: “aku pamit dulu yah,”
Imel: “iya, hati2 di jalan”
Beberpa bulan kemudian dan akhirnya pesta pernikaan pun di laksanakan resepsi di lakukan pada pukul 08.00 sampai pukul 09.00 dan janji suci itu pun aku katakana di depan penguhulu “saya terima nikahnya Melody Nuramdani Laksani binti Iwan dengan seperangkat alat solat di bayar tunai” dan kami pun sah menjadi suami istri. Satu tahun kemudian ntah kenapa dalam sebulan ini dia sering mual muntah
Aku: “kamu nggak papa sayang, dari kemarin kamu muntah terus, kita ke dokter yaa.”
Imel: “nggak tau nih, ya deh, yuk”
Kita berdua langsung berangkat ke dokter sesampainya di tempat praktek dokter spesialis kandungan kami mengantri untuk di periksa setelah lama mengantri akirnya giliran kita untuk di periksa.
Dokter: “ibu Imel, kenapa?”
Imel: “gini dok sebulan terakir ini saya sering mual muntah trus menstruasi nggak lancer dok.”
Dokter: “sini saya periksa dulu”
Setela 5 menit di periksa.
Dokter: “bapak suaminya ibu ini?”
Aku: “iya dok saya suaminya”
Dokter: “selamat! Ya kalian akan menjadi ibu dan ayah”
Betapa gembiranya aku dan Imel mendengar berita tersebut setelah pulang dari dokter Imel aku suru untuk Istirahat dan aku langsung mengabari kedua orang tua aku dan Imel betapa gembiranya mereka mendengar berita baik ini dan 4 bulan kemudian kami mengadakan syukuran 4bulanan kandungan Imel, dan setelah 6 bulan Imel mulai cuti untuk kerja karena takut kecapean dan bisa berakibat teradap janin tersebut.
          Setelah beberapa bulan anak pertama kamipun lahir dengan jenis kelamin perempuan dan kami menamainya Frieska Anastasya Laksani karena anak pertama kami mirip dengan Imel. 2 tahun berselang Imel pun kembali mengandung anak kami yang ke-2 dan terlair dengan jenis kelamin laki-laki dan kami namainya dengan Muhammad Widie Solih Setiawan nama itu diambil dari nama ibu dan kakek aku dan kami pun idup bahagia dengan ke-2 anak kami.



TAMAT